×

Putri Koster Dorong Aksara Bali Tetap Hidup di Tengah Perkembangan Zaman

Jumat, 11 September 2026 pukul 12.00 (6 jam yang lalu) | Oleh tjsl

Seminar “Nyastra” dorong pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali melalui kesadaran masyarakat serta pemanfaatan teknologi digital.

DENPASAR — Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster mengajak masyarakat untuk terus mempelajari, menggunakan, dan mewariskan bahasa, aksara, serta sastra Bali kepada generasi mendatang.

Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra” di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Kamis (10/9/2026).

Menurut Putri Koster, aksara merupakan salah satu penanda penting peradaban sebuah masyarakat. Karena itu, masyarakat Bali patut berbangga karena memiliki aksara sendiri sebagai warisan leluhur.

“Dari seluruh suku yang ada di Indonesia, kita harus berbangga bahwa Bali memiliki aksaranya sendiri,” ujar Putri Koster.

Ia menegaskan, keberlangsungan aksara Bali tidak cukup hanya mengandalkan regulasi pemerintah. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar bahasa, aksara, dan sastra Bali tetap digunakan.

Pelestarian Dimulai dari Kesadaran Masyarakat

Putri Koster mengingatkan bahwa warisan budaya dapat perlahan menghilang ketika masyarakat mulai meninggalkan penggunaannya.

Karena itu, pelestarian aksara Bali harus dimulai dari kesadaran masyarakat Bali sendiri.

“Ketika kita sudah beralih, tidak mau memakai lagi, itu sudah tanda-tanda kita akan kehilangan warisan leluhur kita. Maka, ayo tumbuhkan kesadaran bahwa kita harus melestarikan sastra dan aksara Bali yang telah diwariskan para leluhur kepada anak cucu kita,” tegasnya.

Menurutnya, masyarakat tidak boleh menjadikan usia sebagai alasan untuk berhenti belajar.

Bahasa, aksara, dan sastra Bali merupakan kekayaan budaya bernilai luhur. Ketiganya perlu terus dipelajari, digunakan, dan diwariskan lintas generasi.

Pemerintah Provinsi Bali sendiri telah memberikan landasan regulasi melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018.

Regulasi tersebut mengatur Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

Namun, Putri Koster menekankan bahwa regulasi harus diikuti implementasi nyata dalam kehidupan masyarakat.

“Nyastra” Diharapkan Melahirkan Karya Nyata

Putri Koster berharap Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra” tidak berhenti sebagai ruang diskusi.

Menurutnya, seminar dan kegiatan sosialisasi harus mampu melahirkan karya nyata. Karya tersebut dapat memperkuat keberadaan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Salah satunya melalui penerbitan buku serta berbagai karya yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Karya tersebut juga diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk mengenal dan menggunakan aksara Bali.

Teknologi Jadi Ruang Baru Pengembangan Aksara

Ketua Panitia Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra”, Wayan Sila Sayana, mengatakan perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi pelestarian aksara Kawi dan Bali.

Hingga saat ini, telah dikembangkan 46 jenis font aksara Bali oleh perancang huruf dari Indonesia maupun luar negeri.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi aksara tradisional.

Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas ruang penggunaan dan pengembangan aksara Bali.

Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan aksara Bali kepada masyarakat secara lebih luas.

Dengan demikian, aksara Bali dapat hadir dalam ruang digital sekaligus menjangkau generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi.

Menguak Jejak Aksara Kuno hingga Tantangan Font Digital

Seminar “Nyastra” menghadirkan dua narasumber dengan materi yang mengangkat aspek sejarah dan perkembangan aksara Bali.

Peneliti Ahli Madya BRIN Drs. I Gusti Made Suarbhawa membawakan materi “Prasasti Sembiran: Menguak Keberaksaraan Kuno di Pesisir Bali Utara.”

Sementara itu, I Made Suatjana, kreator Bali Simbar, menyampaikan materi “Perkembangan dan Tantangan Font Aksara Bali Simbar.”

Kedua materi tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan aksara Bali memiliki perjalanan panjang. Pada saat yang sama, perkembangan teknologi menghadirkan ruang baru untuk pengembangannya.

Melalui Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra”, pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali diharapkan semakin tumbuh sebagai gerakan bersama.

Kolaborasi pemerintah dan masyarakat menjadi penting agar aksara Bali tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu.

Aksara Bali diharapkan tetap hidup, digunakan, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang, termasuk melalui ruang digit